Gontor Perlu Kader Yang Tidak Meremehkan Hal Sepele (Sehari semalam di Gontor, Setelah Dua Tahun)
By Abu Fakhri Tentang Pendidikan UmmatKereta eksekutif yang saya tumpangi ternyata terlambat datang di Madiun. Jadwal di tiket tiba pukul 16.30 WIB, ternyata saya bisa turun dari gerbong di Kota Brem tersebut pukul 17.50 WIB. Setelah berbuka dengan pecel di warung seberang stasiun, saya meneruskan perjalanan ke terminal untuk mengambil bus ke kota Ponorogo. Di terminal Ponorogo, puluhan tukang ojek sudah menawarkan jasanya untuk mengantar. Saya ambil salah satunya, dan seperti saya perkirakan sebelumnya, pengaruh kenaikan harga BBM juga melambungkan ongkos ojek dari Terminal Ponorogo ke Gontor menjadi Rp 20 ribu yang sebelumnya Rp 10 ribu di siang hari atau Rp 12-15 ribu jika malam hari. Tepat santri dan masyarakat Gontor sedang bertarawih, saya tiba di Penerimaan Tamu Gedung Al-Azhar, timur Lapangan Hijau Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Inilah sedikit cerita sehari semalam saya di almamater tercinta.
Sebagaimana seperti tamu lainnya, saya mendaftarkan diri ke Bagian Penerimaan Tamu yang saat bulan puasa ini dipegang oleh siswa kelas V KMI sebagai Panitia Bulan Ramadhan (PBR). Seharusnya, sebagai tamu, saya wajib bermalam di Bag. Penerimaan Tamu di Gedung Al-Azhar atau penginapan Wisma Darussalam (full booked oleh tamu menghadiri beberapa acara Pondok). Tetapi karena berbagai hal, saya memutuskan mengunjungi kamar ustadz yang masih saya kenal untuk bersilaturrahmi dan ikut bermalam.
Di kamar ustadz bagian Majalah Gontor (MG), saya bermalam. Kamar MG di Gambia tepat di perempatan gerbang pintu masuk PMDG. Dulu, kantor MG tempat saya bertugas saat menjadi ustadz Gontor, jauh lebih nyaman di perumahan dosen tepat di belakang percetakan Trimurti. Biasalah, di Gontor, tidak ada yang tidak berubah atau berpindah. Bahkan, saat tiba di Al-Azhar pun, kantin semakin megah, ruang tamu semakin luas dan fasilitas bertambah nyaman dan lengkap. Bahkan, cerita dari Bag. Keamanan PBR, Gedung Indonesia yang semenjak dulu saya nyantri sebagai asrama kamar santri, mulai tahun ajaran baru Syawwal depan, akan dijadikan ruang kelas. Inilah ciri Gontor yang dinamis; al-mahad la yanamu abadan. Pembangunan atau rehabilitas gedung dan sarana di beberapa lokasi pun saya lihat masih berlangsung. Ini baru dua tahun saya tidak berkunjung ke Gontor sudah terheran-heran dan bingung dengan relokasi dan penambahan sarana dan prasarana di Gontor, bagaimana antum yang lebih dari 10 tahun tidak pernah ke Gontor?
Saya masih ingat, ada teman satu angkatan yang masih menjadi staf DCC (Darussalam Computer Center). Selain berkunjung ke DCC, sesuai rencana, saya juga ke kantor KMI, selain menemui ustadz yang juga masih satu angkatan, juga belajar lebih jauh tentang KMI; akreditasinya, menajemen, kurikulum, dan info terbaru terkait dengan KMI.
Alhamdulillah, berbagai rencana yang saya sudah jadwalkan selama di perjalanan, semuanya dapat terlaksana kecuali bertemu langsung dengan KH. Abdullah Syukri Zarkasyi dan pimpinan yang lain. Saya paham betul, bahwa kesibukan di Gontor kadang harus mengalahkan niat para tamu untuk berjumpa dengan orang yang kita maksud. Apalagi, saat saya datang, sudah ada kabar berita bahwa Presiden SBY akan mengadakan Buka Puasa Bersama di Gontor pada tanggal 10 September ini.
Melihat sekilas Gontor, pasca dua tahun tak berkunjung, dengan membanding-bandingkan lembaga pendidikan sejenisnya, terasa Gontor jauh lebih berkembang dan bertambah lengkap fasilitas pendidikannya. Apalagi, jika melihat kuantitas santri Gontor yang tidak pernah surut, di tengah pesantren-pesantren sekitarnya yang justru kebingungan mencari santri. Ini patut disyukuri sekaligus perlu menjadi perhatian keluarga besar Gontor. Karena, seringkali kita hanya dapat membangun tetapi tidak dapat memeliharanya, mampu membeli tetapi lupa merawatnya.
Beberapa kantor yang saya kunjungi, sebenarnya menunjukkan indikasi tersebut. Meskipun, saya paham betul, jika dikritisi, biasanya ustadz Gontor pandai bersilat lidah. Yang saya hanya ingin tuliskan, seperti jika akan meninggalkan ruangan, mohon ustadz matikan dulu komputer dan AC-nya yang masih menyala. Juga, rasanya sayang ya, komputer atau printer dengan teknologi tercanggih, tetapi debu di sekitarnya sudah mempunyai ketebalan di luar batas. Ya Allah, semoga Kau berikan ustadz dan kader-kader Gontor yang tidak hanya disibukkan “urusan besar” tetapi melupakan “hal-hal kecil”. Masih ingatkah kita dengan judul Muthalaah “Ihmal”…..??!! (Madiun, 7/9/08)
2 Comments:
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka

ketika pertama kali saya berkunjung ke gontor setelah 15 tahun, saya merasa benar2 asing. syukurnya, sebelumnya sudah kenal lewat dunia maya dg ustadz aditiar, jadi, masih ada orang yg bisa membuat saya tidak "asing" di almamater sendiri...
btw, kebersihannya meningkat juga gak? (meningkat lebih bersih atau lebih kotor, hehehe....)